Minggu, 20 Oktober 2019

Kehabisan tiket kereta di situs Online? Coba datang langsung ke Stasiun.

Pernah kehabisan tiket kereta secara online ga? Cek di aplikasi semuanya habis? Well saya baru saja mengalaminya kemarin. Tapi akhirnya saya bisa dapat tiket kereta murah yang saya mau dengan datang langsung ke stasiun. Oh ya ini untuk tiket kereta jarak jauh ya.  Jadi ini kesimpulan yang bisa saya dapat hari dari pemburuan tiket hari ini.
1. Kuota tiket di aplikasi travel (Traveloka, Tiket.com) berbeda dengan website KAI/Aplikasi KAI (lebih gampang pake aplikasi KAI Access). Lebih banyak di website KAI. Pun ketersediaan tiket website KAI dengan mesin pembelian tiket di KAI berbeda.
Tadi saya cek di Aplikasi KAI sudah habis, akhirnya saya ke Stasiun Senen karena posisi sedang di Plaza Atrium. Dan ternyata tiket yang saya pengen (yang di website sudah habis) masih tersedia di mesin pembelian tiket.

2. Pembelian tiket di mesin tiket susah susah gampang, bukan susah dalam pengoperasian sistemnya. Tapi susah di touchscreennya. Kudu sabaaaarrrr banget, karena dia sensitif kaya pantat bayi (salah bedak doang merah) . Tapi ada petugas yang membantu kita dalam proses pembelian. Dan saya sarankan mending pake debit alih-alih pakai cash. Mesinnya manja dan pemilih, uang lecek dikit dia gamau terima soalnya :(. Lagipula biayanya sama-sama 7.500 ini. Oh ya dia bisa menerima semua debit, kecuali BCA. Mungkin dia anti asing.

3. Pembelian tiket ke petugas hanya bisa dilakukan pagi hingga jam 11 siang. Tapi pembelian tiket di mesin bisa dilakukan 24 jam. Tapi kalau pembelian tiket Go Show (24 jam sebelum keberangkatan) bisa via petugas.
So, semoga ini bermanfaat.

Selasa, 14 Mei 2019

Pertanyaan Paling Mengganggu di Dunia

Biasanya setiap anak manusia yang sudah berusia di atas 17 tahun pasti akan selalu mendapat pertanyaan yang diawali dengan kata 'kapan'. Kalau kebetulan kamu kuliah, akan ditanya 'Kapan selesai?/ Kapan wisuda?' Biasanya sih pada fase ini 'korban' masih bisa senyum senyum polos saja sambil jawab dengan penjabaran yang panjang. Itu kalau kamu masih di bawah  semester 8. Beda cerita kalau pertanyaan yang sama disampaikan kepada manusia yang berada pada fase semester 8 ke atas, atau yang dikenal dengan sebutan MA (Mahasiswa Abadi). Menjawabnya akan dengan embel-embel muka ketus.
Ketika kamu pada akhirnya menyelesaikan kuliah dan sudah di wisuda, akan muncul pertanyaan selanjutnya 'Kapan kerja?'. Pertanyaan yang sebenernya absurd banget sumpah. Dia siapa bertanya begitu, petugas sensus yang lagi menghitung jumlah pengangguran di Indonesia kah? Sabar dulu, pertanyaan itu akan berlanjut ketika kamu sudah bekerja. Akan muncul pertanyaan 'Kapan nih kita ditraktir gaji pertamanya?' biasa nanya sambil senyum senyum ga jelas. Pada fase ini emosi sudah sedikit mulai terpancing. 
Walau tidak semua orang bisa selancang itu untuk memberikan pertanyaan unfaedah macam itu.
Ketika dilihat kamu sudah bekerja, timbullah satu pertanyaan yang bisa bikin kamu emosi djiwa 'Kapan nikah?/Kapan kawin?' Kalau kebetulan pertanyaan ini dilontarkan kepada mereka yang memiliki pasangan, efeknya sih biasa-biasa saja. Lah kalau ditanyakan kepada mereka yang tidak memiliki pasangan, efeknya bisa dahsyat. Memancing keributan namanya. Belum lagi kalau ditanyakan ke mereka yang belum punya pasangan ditambah embel-embel sudah berumur. Wahhh sekelas Thanos saja bisa babak belur sepertinya.

Saya pribadi, masih ga terlalu paham apa sih fungsinya orang lain menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Dulu, saya pernah tau satu cerita yang terjadi terkait hal ini. Seorang temen (perempuan) marah sampai left group dan curhat di fasilitas umum perihal hal ini. Iya, perihal pertanyaan 'Kapan nikah?'. Ketika saya diceritakan masalahnya lewat satu kubu (kubu sipenanya), saya juga beranggapan 'Yaelah kok lebay banget sih, begituan doang juga'. Sampai akhirnya I put my mind in her (yang ditanya) shoes, finally I know why she was angry. Kita memang tidak boleh langsung menjudge seseorang seenak udel kita tanpa tau cerita sesungguhnya dan mendengarkan alasannya. Jadi yang ditanya ini adalah perempuan yang sesungguhnya juga sangat teramat ingin menikah, hanya saja Allah belum mempertemukan dia dengan jodohnya. Di satu sisi si penanya datang dengan pertanyaan 'Kapan nikah?'nya dengan embel-embel yang menurut saya berlebihan. 
Yang bikin saya kaget kemudian adalah, pembelaan si penanya. Si penanya bilang dia bertanya hanya sekedar basa basi. WTF,  basa basi guys. Saya sih ga habis fikir. Kenapa basa basi harus masalah personal orang. Kenapa bukan common issues saja yang dijadikan pertanyaan basa basi mba (:
Seperti, kenapa ya PBB belum mengirimkan peacekeeping ke Suriah, padahal kondisinya sudah parah. Kapan ya Indonesia bisa swasembada pangan. Kenapa ya Xabiru anaknya Rachel Vennya itu sangat menggemaskan. Atau kenapa ya pulau Papua itu harus diujung Indonesia. Banyak kan pertanyaan lain yang bisa dijadikan bahan basa basi dari pada ngurusin hidup orang.
Well ini saya jadi absurd nih, kebawa emosi guys. Muehehehe
Sesungguhnya pertanyaan 'Kapan nikah?' itu belum selesai di situ. Setelah pada akhirnya kamu menikah kamu akan mulai ditanya, 'Kapan punya anaknya?'
Iya tau, selelah itu jadi manusia yang hidup dalam tatanan sosial yang super sangat ramah sampai tidak bisa membedakan mana yang harusnya jadi pembahasan privasi dan mana yang bukan. Tapi apakah mengganggu kenyamanan orang lain sudah menjadi hal biasa di masyarakat kita? Apakah mengurusi kehidupan personal orang lain menjadi suatu kebanggaan bagi kita? 
Menikah itu bukan sedang berlomba, bukan tentang siapa lebih cepat dari siapa.
Saya pernah tau cerita tentang orang yang menikah muda kemudian cerai, atau yang menikah lama tapi awet. Saya juga tau orang yang menikah cepat tapi lama memiliki keturunan dan ada yang menikah lebih lama tapi langsung memiliki keturunan. Ada juga yang begitu lulus kuliah langsung mendapatkan pekerjaan tapi dia tidak nyaman dengan pekerjaannya ada juga yang sebaliknya. Dan banyak contoh lainnya yang saya yakin ada di sekitar kita.
Itu semua hanya tentang waktu, karena semua orang akan bekerja kalau dia mau dan berusaha dan semua orang akan menikah kalau ada jodohnya.

Duta Kece Goes To Baduy Dalam via Jalur Cepat

Group WA adalah titik mula rencana perjalanan Baduy kami dimulai, Saya, Bapak, Moyo, Rendy, Cici dan Vera adalah enam orang dengan komitmen kuat untuk merealisasikan Trip Baduy yang sudah kami rancang dengan beberapa teman. Ya kehidupan itu memang selalu penuh dengan seleksi alam, banyak yang mengatakan akan ikut, namun pada akhirnya hanya kami berenam yang berangkat. Ngos-ngosan karena lari-larian di stasiun Tanah Abang yang saya lakukan adalah awal perjalanan kami. Saya, Vera, Rendy dan Moyo berangkat bersama dari Stasiun Tanah Abang untuk kemudian Bapak dan Cici mulai naik dari stasiun yang berada di Tangerang. Dua jam waktu perjalanan menuju Rangkas Bitung kami habiskan dengan menceritakan kisah orang lain, siapa saja orang itu selama bukan kami berenam semua akan kami bahas hingga tuntas, menyedihkan memang kehidupan anak muda kurang produktif yang suka ghibah :(
Ini perjalanan pertama saya ke Baduy dan juga menjadi perjalanan pertama saya dengan teman berkelompok. Selama ini jika ingin travelling, saya memang lebih memilih berjalan sendiri dibanding dengan teman. Alasannnya, karena menurut saya setiap orang memiliki kebiasaan, pemikiran dan pandangan yang berbeda. Saya mau liburan dan tidak mau dibuat ribet dengan hal-hal kecil seperti masalah kita makan apa atau tidur dimana. Jadi entah kenapa kali ini saya berminat pergi dengan orang lain, mungkin ini bagian dari konspirasi alam semesta.
Sebagai satu-satunya orang dalam kelompok yang memiliki rumah di perbatasan Baduy, Bapak otomatis didaulat menjadi tuan rumah yang merangkap menjadi tour leader dan navigator di saat bersamaan (rangkap jabatan plus plus). Kami berlima hanya tinggal mengikuti arahan dari Bapak.
Sesampainya di Stasiun Rangkas Bitung sebagai stasiun terakhir yang melayani kereta Commuter Line, kami melanjutkan perjalanan ke terminal yang kebetulan posisinya sangat dekat dengan stasiun. Setelah meletakkan barang bawaan ke mini bus yang akan kami gunakan menuju perbatasan Baduy, kami pergi makan dan belanja beberapa kebutuhan. Jajanan sudah dibeli dan perut sudah kenyang, saatnya menlanjutkan perjalanan . menggunakan mini bus dengan posisi duduk di belakang, kami melanjutkan perjalanan menuju Baduy. Kurang lebih satu setengah jam adalah waktu yang ditempuh dari Terminal Rangkas Bitung menuju Desa Parigi sebagai desa perbatasan Baduy yang juga desa tempat rumahnya Bapak berada. Normalnya sih orang-orang yang akan mengunjungi Baduy akan berhenti di Desa Ciboleger,  namun kalau berangkat ke Baduy dari Desa Ciboleger akan menghabiskan 6-8 jam perjalanan. Sedangkan kalau dari Cijahe hanya menghabiskan 3-4 jam perjalanan saja. Tapi jika berangkat dari Desa Cijahe kita tidak akan melewati jembatan akar, sebagai jembatan khas jika pergi ke Baduy.
Turun dari mini bus, kami beristirahat di rumah Bapak, di Parigi. Setelah makan siang dengan menu yang bikin nagih, sholat dan packing ulang barang, kami melanjutkan perjalanan kembali, kami harus bergegas karena waktu sudah semakin sore. Perjalanan selanjutnya kami menggunakan ojek motor dengan tarif 50k pergi dan pulang dari Parigi ke Cijahe sebagai desa perbatasan Baduy. Sampai di Cijahe sebagai desa yang menjadi akses cepat jika akan ke Baduy, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengingat tidak diperbolehkannya penggunaan kendaraan di Baduy. Di perbatasan Baduy, kami langsung mencari penduduk local yang bersedia menjadi guide kami selama perjalanan. Hal tersebut penting mengingat kami merupakan pendatang dan untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Lokasi pemberhentian terakhir kami dengan ojek merupakan desa perbatasan Baduy dengan luar dan itu merupakan akses cepat menuju Baduy dalam, Desa Cijahe namanya.

Setelah satu jam berjalan kaki, kami akhirnya sampai di Baduy Luar. Kami langsung disambut pemandangan masyarakat Baduy yang mengenakan pakaian hitam serta rumah-rumah masyarakat Baduy yang terbuat dari anyaman. Jalanan menanjak tanah merah serta jalanan dengan batu adalah pemandangan yang ada di Baduy Luar. Menyapa sebentar masyarakat Baduy Luar dan mengambil beberapa foto dengan latar belakang rumah masyarakat Baduy, adalah kegiatan yang kami lakukan sambil menunggu guide yang pulang sebentar ke rumahnya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan sesungguhnya dengan medan yang lebih keras lagi, perjalanan ke suku Baduy Dalam.
Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai, tracking ke ke Desa Suku Baduy Dalam. Demi keamanan, kami mengatur formasi perjalanan dengan meletakkan para perempuan di tengah dan laki-laki di belakang. Saya sangat mengapresiasi para lelaki yang ada di kelompok kami, dimulai dari Bapak yang bersedia membawa tas Cici demi meringankan beban Cici. Juga Moyo yang selalu sigap menjaga Cici dan Rendy yang baru saya sadari sebenernya tidak melakukan apa-apa tapi saya yakin dia siap siaga. Oh ya jangan lupakan Vera, walau dia perempuan tapi dia sudah terbiasa naik gunung. Jadi dia lebih siap dibandingkan saya dan Cici.
Setelah berjalan selama satu jam, kami istirahat guna menghilangkan sedikit lelah di sebuah gubug yang kosong. Memakan cemilan sambil mengisi ulang tenaga. Kondisi sudah sedikit gelap dan langit sudah mendung. Setelah istirahat secukupnya, kami melanjutkan  kembali perjalanan. Gelap mulai menghampiri bumi pertanda posisi matahari sudah diganti oleh bulan dan kami masih harus melanjutkan perjalanan. Sudah mau memasuki desa Baduy Dalam, saat langit tidak lagi mampu membendung air yang menggenanginya dan hujan mulai turun. Kami berhenti sebentar di sebuah bangunan yang ternyata berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi masyarakat Baduy untuk menggunakan jas hujan. Selesai menggunakan jas hujan dan berjalan beberapa langkah, kemudian kejadiaan naas itu terjadi. Saya jatuh terpeleset menghantam tanah yang basah. Sakit dan malunya seimbang, masalahnya yang dijaga sekali agar tidak terjatuh itu adalah Cici namun mengapa saya yang terjatuh. Selesai saya bangun kembali, ledekan anak-anak tetap terdengar sampai kami akhirnya memasuki Baduy Dalam. Begitulah teman, meledek baru membantu. Ah saya baru ingat, mereka bahkan tidak membantu saya sama sekali. Saya bangun dan bersih-bersih sendiri -_-.
Setelah melewati satu sungai yang dihubungkan oleh sebuah jembatan, kami disambut dengan kerlip cahaya obor dari kejauhan. Kami memasuki perkampungan masyarakat Baduy Dalam. Malam itu ternyata sedang banyak orang yang berkunjung ke Baduy, jadi kami tidak dapat tidur di rumah Kepala Desa. Karena rumah Kepala Desalah yang biasanya dijadikan tempat orang luar jika ingin menginap di Baduy. Kami menginap di sebuah rumah masyarakat Baduy yang sangat ramah. Malam itu selesai bersih-bersih kami diajak makam malam bersama keluarganya dan ditawarin makan makanan mereka. Karena kami membawa bekal sendiri, akhirnya terjaid penyatuan makanan Baduy Dalam dan makanan luar. Selesai makan, kami menghabiskan waktu selama satu jam lebih untuk mengobrol. Wah ternyata Bapak pemilik rumah itu pernah diundang ke Istana oleh Presiden Jokowi, dan Bapak itu pernah menghabiskan waktu selama 3 hari berjalan kaki untuk pergi ke Bandung. Daebak!
Di Baduy saya merasa waktu berjalan lebih lama, ntah karena tidak ada elektronik dan semua terasa gelap atau karena hal lain. Malam itu kita merasa sudah sangat larut, namun ternyata baru pukul 9 Malam. Selesai mengobrol bersama dan membereskan sisa makan malam, para Bapak-Bapak yang mengobrol dengan kami pulang ke rumahnya masing-masing sedangkan kami bermain Uno. Oh ya Cici tidak ikut bermain Uno bersama kami, mungkin dia terlalu lelah. Dari awal sebelum berangkat ke Baduy, kami memang sudah berniat untuk bermain Uno, dan kami melakukannya. Kami bermain Uno hingga jam 12 lewat, perjalanan kami hari itu ditutup dengan selesainya kami bermain UNO dan Bapak yang saya yakin sedikit BT karena selalu kalah dan selalu mengambil kartu dalam jumlah banyak hahahahaOh ya, ternyata kalau malam Baduy itu dinginnya subhanallah, saya beberapa kali terbangun engah malam karena dingin dan juga merasa udah tidur untuk waktu yang lama. Like I said before, di Baduy waktu terasa berjalan lebih lama.
Shubuh tiba dan kita melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Tolong di highlight. BERJAMAAH. Saya rasanya makin kagum saja dengan tiga cowok-cowok ini haha. Kalian yang cewek kalau sedang mencari imam, boleh memasukkan nama mereka ke bursa calon imam idaman kalian muehehehe. Bapak, Moyo dan Rendy menemani dan menunggui saya dan Vera yang sedang ngambil wudhu, di kegelapan dan dinginnya udara shubuh serta tanah yang masih becek, kita beriringan jalan ke sungai karena tidak ada kamar mandi di Baduy. Semua aktivitas dilaksanakan di sungai. Sungai di bagi menjadi tiga bagian. Bagian paling hulu untuk kepala suku, kemudian di bawahnya buat kaum lelaki kemudian bagian perempuan dan yang paling hilir adalah tempat membuang air besar. Ada satu fakta menyebalkan yang saya tau diakhir, bahwa ternyata ketika saya dan Vera sedang membuang air kecil, ternyata Rendy juga melakukan kegiatan yang sama di hulu sungai. Dimana aliran dari hulu sungai akan datang ke kami. Ingin rasanya saya menceburkan Rendy, kenapa dia harus melakukan hajatnya di saat yang bersamaan dengan kami -_-.
Setelah sholat shubuh, kami melanjutkan tidur. Yap apalagi aktivitas yang mengasyikkan untuk dilakukan setelah tidur selain tidur hahaha. Walau kemudian Cici mengomel karena menurutnya kami membuang-buang waktu dengan hanya tidur-tiduran. Jam 7 pagi kami merapikan kembali baeang bawaan dan jam 8 kami pergi meninggalkan Baduy Dalam.Perjalanan pulang ternyata sama menantangnya dengan perjalanan pergi, namun lebih baik karena kali ini tanah kering dari embel-embel air hujan. Perjalanan pulang lebih lama dari perjalanan pergi, karena kami menghabiskan satu jam lebih untuk istirahat (ditambah ghibah) di gubung tempat kami istirahat ketika kami pergi ditambah kami juga menunggu Bapak yang tertidur. Sumpah dia tertidur hanya dalam hitungan detik. sungguh manusia pelor abadi!

Memasuki Baduy Luar kami semakin banyak bertemu dengan masyarakat asli Baduy, dan tentu saja berfoto adalah hal yang sudah pasti dilakukan. Tak terasa kami akhirnya sampai di perbatasan Baduy, dan selanjutnya kami menunggu ojek untuk kembali pulang ke rumah Bapak. Di rumah Bapak kami istirahat, makan makanan enak dan bersih-bersih. Jam 3 sore kami meninggalkan Baduy dengan mobil pribadi dan diantar langsung oleh saudara Bapak. Bye bye elf dan bybye Baduy. See you another time :)


Jumat, 26 April 2019

Dua Hari Menginap di Padma Hotel Bandung

“Kita nginap di Padma”
Emang Padma apaan?” saya bertanya ke kakak sepupu yang menawari saya untuk ikut ke Bandung bersamanya, dan tidak ada jawaban. Karena rasa penasaran saya berselancar di Google dan langsung takjub melihat pemandangan hotel yang super keren yang terpampang di home web https://padmahotelbandung.com. ‘Well I must stay in this hotel’, batin saya. Tidak butuh waktu lama, saya langsung cek tiket kereta dan jam 11 malam setelah selesai bekerja, saya berangkat dari Gambir dengan kereta terakhir menuju Bandung. Saya sampai Bandung jam setengah 3 pagi, kirim pesan ke WA kakak, deliv tapi tidak dibaca. Duduk sebentar di stasiun selagi memikirkan rencana selanjutnya. Sebelumnya kakak saya sudah memberitahu jika lingkungan tempat Padma Hotel berada merupakan lingkungan yang sepi. Galau karena pemberitahuan mengenai lingkungan yang sepi dan Bandung bukanlah lokasi saya. Memantapkan hati, saya iseng order ojek online, dan ternyata dapat driver. Saat itu sudah jam 3 pagi ketika saya melaju bersama driver ojol di sepi dan dinginnya udara Bandung. Tidak sampai setengah jam kemudian saya sampai di Padma Hotel, dan benar lingkungannya memang sepi sekali. 

Selama perjalanan saya bercerita kalau saya pernah ke Pusdikpassus mengunjungi abang saya (padahal waktu itu saya wawancara narasumber tesis), dan cerita-cerita keren lainnya. Jaga-jaga jika abangnya mempunyai niat jahat hehe. Syukurnya selama perjalanan drivernya juga berusaha memilih jalanan yang ramai dan saya sampai dengan selamat. Sesampainya di hotel suasana lobby gelap dan saya mulai berfkir, ini hotel pelit amat sih kaga ada lampunya (Besoknya baru saya tau dari pegawai hotel kalau mereka, Padma Hotel punya konsep Nature, makanya gelap karena mereka meminimalisir penggunaan listrik). Bahkan sampai hotel kakak saya masih belum membaca chat saya, apalagi membalasnya. Kemudian saya samperin pegawai front office yang berjaga malam itu, dan menanyakan apakah saya boleh tau kamar pengunjung. Mungkin karena saat itu sudah larut dan saya tau persis nama kakak saya, mas yang baik itu bersedia mencarikan nama kakak saya dan memberitau nomor kamarnya. Kamar 423 adalah tujuan saya, berada di lantai 4. Lumayan lama saya berada di depan kamar berusaha menelpon dan memencet bel, sampai akhirnya kakak saya bangun dan membukakakn pintu. Ya saya saa kaget kenapa dia tidur seperti orang mati sih -_- (Oh may be this is genetic, lol).

Itu adalahh kamar yang besar dengan kasur yang besar (satu kasur diisi oleh saya, kakak saya dan dua ponakan saya dan bisa kalau diisi oleh satu orang lagi). Ketika terang saya baru mengetahui kalau ternyata di kamar itu terdapat balkon yang menghadap langsung pepohonan yang rimbun. Dengan kamar mandi besar juga dan terdapat bath up di dalamnya dan juga terdapat satu wastafel dan satu ruangan untuk mandi yang memiliki dua shower (hand shower and  rain shower).
Jam 7 pagi kami memutuskan untuk pergi sarapan, sarapan terdapat di lantai 1. Oh ya di Padma Hotel Bandung, lantai satu berada di paling atas dan lantai 8 berada di lantai paling bawah. Karena 2 keponakan saya sudah berusia di atas 5 tahun, maka kami harus membayar biaya tambahan untuk sarapan mereka  sebesar 200k. Terdapat berbagai macam menu sarapan di Padma Hotel, mulai dari menu asli Indonesia, Western, Chinese food bahkan ada kids corner untuk menu makanan anak-anak. Karena kami tidak punya rencana spesifik selama di Bandung, lagi pula kami berdua adalah no rugi-rugi club, jadi kami menghabiskan 3 jam di restoran haha. Eh lagipula menunggu dua anak kecil yang susah makan itu menghabiskan makanannya memang sangat lama. Selama nungguin gebetan ngelamar. Padahal mereka hanya memakan coco crunch dan mie goreng pakai sosis saja. 
Di tengah penantian saya dan kakak saya menunggu mereka berdua makan, kami disamperin pegawai hotel yang teryata bertugas di front office, Izzul namanya. 
Kegiatan painting
Dia menanyakan pengalaman kami menginap di Padma Hotel. Dan dari dia juga saya mengetahui tentang fasilitas-fasilitas yang kita peroleh jika menginap di Padma Hotel. Dimulai dari fasilitas outbond, flying fox, fish area, birds area, rabbit, mini labyrinth, aktivitas memanah, face painting, nail art, dan melukis. Untuk aktivitas-aktivitas outdoor terdapat jam yang berlaku, pengunjung bisa menanyakan ke resepsionis untuk waktu kegiatannya. Juga terdapat lapangan bola kaki, lapangan bola basket,  mini golf dengan 3 lapangan kecil, kolam renang dengan air hangat untuk anak dan kolam dewasa, juga terdapat kolam air panas jika kita ingin berendam. Namun jika ingin berenang atau berendam, pengunjung diwajibkan menggunakan baju renang. Namun jika tidak membawa baju renang, pengunjung bisa meminjam baju renang ke pihak hotel, namun dengan size yang terbatas.


Kegiatan memancing
Jika ingin karaoke juga terdapat fasilitas karaoke yang bisa dibooking di resepsionis dan juga pengunjung bisa bermain billiard. Kita juga bisa tracking jika menginap di Padma Hotel, ada guide yang akan menemani kita untuk tracking di bukti sekitar Padma Hotel. Padma hotel juga menyediakan fasilitas antar jemput hotel dari dan ke Bandara, Stasiun Kereta, pool bus dan  travel dan itu freeDi sore hari, terdapat fasilitas tea time dari Padma dengan menu makanan dan minuman khas Jawa Barat. Kalau untuk tea time, anak di atas 5 tahun tidak perlu membayar biaya tambahan. Waktu tea time dimulai dari jam 3 sore hingga jam 5 sore.

Karena semua kebutuhan liburan kita sudah dipenuhi selama berada di Padma Hotel, maka saya memutuskan untuk tidak pergi ke luar hotel selama menginap di Padma. Dua hari dua malam menginap di Padma hanya saya habiskan di lingkungan hotel. Walau kakak dan keponakan saya tetap pergi untuk mengeksplore kota Bandung.


Jika kalian berniat menginap di Padma Hotel Bandung, ini saya fotokan list harga menginap di Hotel Padma Bandung. I know, I know you must be shocked about the price, I was  in your position too! (syukur gue dibayarin yekannn) Mana baru tau kalau kamar yang kita tempati ternyata Premium Room Mountain lagi, perkara mountain dan ga mountain aja beda 200k dong . Tapi percayalah , harga tersebut worth it dengan kenyamanan dan fasiltas yang akan kalian dapatkan. Kalau kalian memesan via web Padma Hotel, akan ada diskon spesial buat kalian yang bisa digunakan untuk pemesanan kamar atau bisa juga digunakan untuk deposit. kalau tidak mau rugi karena sudah mengeluarkan uang sebegitu banyak hanya demi menginap di hotel, maka saya sarankan kalian membawa anak kecil jika mengianp di Padma.Tapi jangan bawa anak kecil satu RT, tidak begitu juga sahabat! Karena mostly fasilitas yang terdapat di Padma memang dikhususkan untuk anak anak. Jadi kapan mau menginap di Padma Hotel?



Selasa, 16 April 2019

Takjil Gratis Buat Yang Puasa Senin Kamis


Hari kamis lalu saya pergi ke Mall Kota Kasablanka (Kokas) karena ingin bertemu dengan teman-teman. Saya sampai di Kokas tepat ketika adzan maghrib berkumandang. Setelah mengabari teman kalau saya sudah sampai, saya memutuskan untuk melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu di masjid Kokas yang berada di lantai dasar. Masjid AL-Ikhlas namanya, posisinya berada di depån restoran Marugame Udon. Dari dulu masjid Kokas memang terkenal rame sekali jika masuk jam sholat maghrib. Padahal masjid Kokas sudah terbilang besar jika dilihat dalam ukuran masjid yang berada di dalam mall. Termasuk sore itu, keadaan masjid sangat ramai, bahkan terdapat antrian memanjang ketika saya akan memasuki masjid. Ketika akhirya saya sampai di teras masjid, di tempat kursi yang berjejer dan tempat penitipan sepatu.

Di tengah teras masjid terdapat dua meja yang di atasnya terdapat beraneka macam kue dan makanan ringan lainnya juga air mineral gelas dan teh manis. Wahh ternyata itu adalah hidangan untuk buka puasa,  hari kamis adalah waktu untuk puasa sunnah (tidak wajib) bagi ummat islam. Dalam islam terdapat dua hari puasa sunnah yang biasa dilakukan serang muslim dalam satu minggu, yaitu puasa senin dan kamis. Karena kebetulan hari itu saya juga sedang berpuasa dan baru membatalkan puasa hanya dengan air mineral saja, maka saya mengambil bolu yang tersedia di sana.
Saya duduk di kursi sambil menyantap makanan saya, di sekeliling saya beberapa orang juga tampak sedang menyantap makanannya sedangkan suara iqamat sudah terdengar dari dalam masjid. Selesai dengan bolu yang ada di tangan saya, saya mengambil satu lagi bolu pisang sambil bertanya ke perempuan yang dari tadi terlihat sibuk menata makanan di meja. Menurut Mba yang ternyata bagian dari DKM masjid, makanan untuk buka puasa itu memang selalu disediakan setiap senin dan kamis. Makanan tersebut memang diperuntukkan bagi mereka yang hari itu sedang berpuasa sunnah. aktivitas menyediakan makanan untuk berbuka puasa sudah setahun dilakukan. Walau memang hidangan diperuntukkan bagi mereka yang berpuassa, namun tak jarang juga yang tidak berpuassa ikut menyantap hidangan yang disediakan. Jadi kalau kalian sedang berpuasa senin kamis, sesekali coba suasana buka puasa dengan menu yang disediakan oleh Masjid AL Ikhlas Mall Kota Kasablanka.

Senin, 21 Januari 2019

Perjalanan ke Bajawa, Ngada. Nusa Tenggara Timur

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, karena selain berwisata dan berpetualang saya juga datang untuk mengunjungi Pak Made dan Kak Cyntia yang saat ini menjabat sebagai Dandim di Ngada. Ya sambil menyelam minum air, sambil silaturrahmi dapat bonus liburan hehe.

Perjalanan dimulai dari Jakarta dengan tiket Sriwijaya yang saya beli di STFJ dengan harga 600an. Perjalanan dari Jakarta pada pukul 06.05 WIB dengan menggunakan pesawat Sriwijaya dan sampai di Denpasar, Bali pada pukul 09.00 WITA. Seharusnya perjalanan saya dilanjutkan pada pukul 10.40 dengan menggunakan NAM Air, namun apa daya setelah mengalami delay yang sangat panjang kemudian baru berangkat pukul 15.00 WITA. Saya baru sampai di Labuan Bajo pada pukul 17.00 WITA. Mundur 6 jam dari jadwal awal. Huh.

Dikarenakan pesawat dari Labuan Bajo ke Ngada hanya ada sekali setiap harinya, yaitu pada jam 12.00 WITA. Maka tidak memungkinkan bagi saya untuk melanjutkan perjalanan ke Ngada. Kemudian saya menginap di hotel yang Exotis yang lokasinya sangat dekat dari Bandara. Kalian bisa berjalan kaki dari hotel ke bandara, dan ini bisa dijadikan opsi untuk kalian yang mempuyai jadwal terbang lanjutan. Mengingat transportasi dari Bandara ke kota lumayan mahal. 50.000 dengan taksi.

Keesokan harinya jam 11 kurang saya sudah berada di bandara and guess what, pesawatnya delay dong. Bahkan hingga jam 12 saja pesawat kecil itu belum juga menapakkan romanya di Bandara Komodo. Jam 12.32 WITA akhirnya pesawat datang dan kurang dari jam 1 para penumpang sudah berada di pesawat dan pesawat langsung lepas landas. Jam 01.30 akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna di bandara Ngada. Sampai di Ngada, anggotanya Bapak sudah siap menyambut saya da kemudian saya melanjutkan perjalanan ke rumah Bapak dan Kak Tya.

Pusat kota Bajawa itu berada di dataran yang lebih tinggi lagi dari lokasi bandara, Kota yang kecil namun menyejukkan. Masih jam 2 saja kabut sudah turun ke kota dan menghalangi pandangan mata. Sepanjang jalan kita disambut pemandangan yang sangat indah, melewati Gunung Pasir yang pasirnya terus dikerik. 35 menit mengendarai mobil akhirnya sya sampai di rumah Bapak. Rumah itu sangat asri dengan halaman luas dan pohon kelengkeng di depannya, lokasinya tepat berada di sebelah kantor Kodim karena rumah itu adalah rumah dinas Dandim. Ah saya lupa memberitahu kalian bahwa Bapak adalah Dandim di Ngada.

Ketika saya masuk ke rumah langsung disambut Kak Tya dengan pelukan dan kalungan kain khas Bajawa. Sungguh saya sangat terharu! Ketika diantar ke kamar yang nantinya akan saya tempati selama saya berada di Bajawa, saya dibikin kaget karena ternyata sudah ada Kak Yeni di sana. Seminggu sebelum keberangkatan ke Labuan Bajo, kak Yeni memberitahu kalau dia membatalkan keberangkatannya. Waktu itu saya juga hampir membatalkan keberangkatan saya karena Males juga sendirian. Well they successed to prank me -_-

Makan siang pertama saya memakan masakan Kak Tya langsung, sop ikan yang rasanya sangat enak. Di Bajawa yang udaranya dingin, sop ikan panas adalah pasangan yang sangat cocok.
Sore harinya saya dan Kak Yeni baru bisa bertemu Pak Made karena memang jadwalnya yang sibuk. Malam harinya kami diajak untuk nongkrong di Cafe yang lokasinya tak jauh dari rumah Kak Tya. Mungkin karena mayoritas turis yang datang adalah foreigners, menu makanan yang tersedia di Cafe juga tak jauh dari menu kebarat baratan . Menu ditulis dalam bahasa Inggris dan live musik yang ditampilkan juga dalam bahasa Inggris. Namun kami menemukan satu menu unik. Jus advokat hehehe

Kehabisan tiket kereta di situs Online? Coba datang langsung ke Stasiun.

Pernah kehabisan tiket kereta secara online ga? Cek di aplikasi semuanya habis? Well saya baru saja mengalaminya kemarin. Tapi akhirnya saya...