Selasa, 14 Mei 2019

Duta Kece Goes To Baduy Dalam via Jalur Cepat

Group WA adalah titik mula rencana perjalanan Baduy kami dimulai, Saya, Bapak, Moyo, Rendy, Cici dan Vera adalah enam orang dengan komitmen kuat untuk merealisasikan Trip Baduy yang sudah kami rancang dengan beberapa teman. Ya kehidupan itu memang selalu penuh dengan seleksi alam, banyak yang mengatakan akan ikut, namun pada akhirnya hanya kami berenam yang berangkat. Ngos-ngosan karena lari-larian di stasiun Tanah Abang yang saya lakukan adalah awal perjalanan kami. Saya, Vera, Rendy dan Moyo berangkat bersama dari Stasiun Tanah Abang untuk kemudian Bapak dan Cici mulai naik dari stasiun yang berada di Tangerang. Dua jam waktu perjalanan menuju Rangkas Bitung kami habiskan dengan menceritakan kisah orang lain, siapa saja orang itu selama bukan kami berenam semua akan kami bahas hingga tuntas, menyedihkan memang kehidupan anak muda kurang produktif yang suka ghibah :(
Ini perjalanan pertama saya ke Baduy dan juga menjadi perjalanan pertama saya dengan teman berkelompok. Selama ini jika ingin travelling, saya memang lebih memilih berjalan sendiri dibanding dengan teman. Alasannnya, karena menurut saya setiap orang memiliki kebiasaan, pemikiran dan pandangan yang berbeda. Saya mau liburan dan tidak mau dibuat ribet dengan hal-hal kecil seperti masalah kita makan apa atau tidur dimana. Jadi entah kenapa kali ini saya berminat pergi dengan orang lain, mungkin ini bagian dari konspirasi alam semesta.
Sebagai satu-satunya orang dalam kelompok yang memiliki rumah di perbatasan Baduy, Bapak otomatis didaulat menjadi tuan rumah yang merangkap menjadi tour leader dan navigator di saat bersamaan (rangkap jabatan plus plus). Kami berlima hanya tinggal mengikuti arahan dari Bapak.
Sesampainya di Stasiun Rangkas Bitung sebagai stasiun terakhir yang melayani kereta Commuter Line, kami melanjutkan perjalanan ke terminal yang kebetulan posisinya sangat dekat dengan stasiun. Setelah meletakkan barang bawaan ke mini bus yang akan kami gunakan menuju perbatasan Baduy, kami pergi makan dan belanja beberapa kebutuhan. Jajanan sudah dibeli dan perut sudah kenyang, saatnya menlanjutkan perjalanan . menggunakan mini bus dengan posisi duduk di belakang, kami melanjutkan perjalanan menuju Baduy. Kurang lebih satu setengah jam adalah waktu yang ditempuh dari Terminal Rangkas Bitung menuju Desa Parigi sebagai desa perbatasan Baduy yang juga desa tempat rumahnya Bapak berada. Normalnya sih orang-orang yang akan mengunjungi Baduy akan berhenti di Desa Ciboleger,  namun kalau berangkat ke Baduy dari Desa Ciboleger akan menghabiskan 6-8 jam perjalanan. Sedangkan kalau dari Cijahe hanya menghabiskan 3-4 jam perjalanan saja. Tapi jika berangkat dari Desa Cijahe kita tidak akan melewati jembatan akar, sebagai jembatan khas jika pergi ke Baduy.
Turun dari mini bus, kami beristirahat di rumah Bapak, di Parigi. Setelah makan siang dengan menu yang bikin nagih, sholat dan packing ulang barang, kami melanjutkan perjalanan kembali, kami harus bergegas karena waktu sudah semakin sore. Perjalanan selanjutnya kami menggunakan ojek motor dengan tarif 50k pergi dan pulang dari Parigi ke Cijahe sebagai desa perbatasan Baduy. Sampai di Cijahe sebagai desa yang menjadi akses cepat jika akan ke Baduy, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengingat tidak diperbolehkannya penggunaan kendaraan di Baduy. Di perbatasan Baduy, kami langsung mencari penduduk local yang bersedia menjadi guide kami selama perjalanan. Hal tersebut penting mengingat kami merupakan pendatang dan untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Lokasi pemberhentian terakhir kami dengan ojek merupakan desa perbatasan Baduy dengan luar dan itu merupakan akses cepat menuju Baduy dalam, Desa Cijahe namanya.

Setelah satu jam berjalan kaki, kami akhirnya sampai di Baduy Luar. Kami langsung disambut pemandangan masyarakat Baduy yang mengenakan pakaian hitam serta rumah-rumah masyarakat Baduy yang terbuat dari anyaman. Jalanan menanjak tanah merah serta jalanan dengan batu adalah pemandangan yang ada di Baduy Luar. Menyapa sebentar masyarakat Baduy Luar dan mengambil beberapa foto dengan latar belakang rumah masyarakat Baduy, adalah kegiatan yang kami lakukan sambil menunggu guide yang pulang sebentar ke rumahnya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan sesungguhnya dengan medan yang lebih keras lagi, perjalanan ke suku Baduy Dalam.
Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai, tracking ke ke Desa Suku Baduy Dalam. Demi keamanan, kami mengatur formasi perjalanan dengan meletakkan para perempuan di tengah dan laki-laki di belakang. Saya sangat mengapresiasi para lelaki yang ada di kelompok kami, dimulai dari Bapak yang bersedia membawa tas Cici demi meringankan beban Cici. Juga Moyo yang selalu sigap menjaga Cici dan Rendy yang baru saya sadari sebenernya tidak melakukan apa-apa tapi saya yakin dia siap siaga. Oh ya jangan lupakan Vera, walau dia perempuan tapi dia sudah terbiasa naik gunung. Jadi dia lebih siap dibandingkan saya dan Cici.
Setelah berjalan selama satu jam, kami istirahat guna menghilangkan sedikit lelah di sebuah gubug yang kosong. Memakan cemilan sambil mengisi ulang tenaga. Kondisi sudah sedikit gelap dan langit sudah mendung. Setelah istirahat secukupnya, kami melanjutkan  kembali perjalanan. Gelap mulai menghampiri bumi pertanda posisi matahari sudah diganti oleh bulan dan kami masih harus melanjutkan perjalanan. Sudah mau memasuki desa Baduy Dalam, saat langit tidak lagi mampu membendung air yang menggenanginya dan hujan mulai turun. Kami berhenti sebentar di sebuah bangunan yang ternyata berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi masyarakat Baduy untuk menggunakan jas hujan. Selesai menggunakan jas hujan dan berjalan beberapa langkah, kemudian kejadiaan naas itu terjadi. Saya jatuh terpeleset menghantam tanah yang basah. Sakit dan malunya seimbang, masalahnya yang dijaga sekali agar tidak terjatuh itu adalah Cici namun mengapa saya yang terjatuh. Selesai saya bangun kembali, ledekan anak-anak tetap terdengar sampai kami akhirnya memasuki Baduy Dalam. Begitulah teman, meledek baru membantu. Ah saya baru ingat, mereka bahkan tidak membantu saya sama sekali. Saya bangun dan bersih-bersih sendiri -_-.
Setelah melewati satu sungai yang dihubungkan oleh sebuah jembatan, kami disambut dengan kerlip cahaya obor dari kejauhan. Kami memasuki perkampungan masyarakat Baduy Dalam. Malam itu ternyata sedang banyak orang yang berkunjung ke Baduy, jadi kami tidak dapat tidur di rumah Kepala Desa. Karena rumah Kepala Desalah yang biasanya dijadikan tempat orang luar jika ingin menginap di Baduy. Kami menginap di sebuah rumah masyarakat Baduy yang sangat ramah. Malam itu selesai bersih-bersih kami diajak makam malam bersama keluarganya dan ditawarin makan makanan mereka. Karena kami membawa bekal sendiri, akhirnya terjaid penyatuan makanan Baduy Dalam dan makanan luar. Selesai makan, kami menghabiskan waktu selama satu jam lebih untuk mengobrol. Wah ternyata Bapak pemilik rumah itu pernah diundang ke Istana oleh Presiden Jokowi, dan Bapak itu pernah menghabiskan waktu selama 3 hari berjalan kaki untuk pergi ke Bandung. Daebak!
Di Baduy saya merasa waktu berjalan lebih lama, ntah karena tidak ada elektronik dan semua terasa gelap atau karena hal lain. Malam itu kita merasa sudah sangat larut, namun ternyata baru pukul 9 Malam. Selesai mengobrol bersama dan membereskan sisa makan malam, para Bapak-Bapak yang mengobrol dengan kami pulang ke rumahnya masing-masing sedangkan kami bermain Uno. Oh ya Cici tidak ikut bermain Uno bersama kami, mungkin dia terlalu lelah. Dari awal sebelum berangkat ke Baduy, kami memang sudah berniat untuk bermain Uno, dan kami melakukannya. Kami bermain Uno hingga jam 12 lewat, perjalanan kami hari itu ditutup dengan selesainya kami bermain UNO dan Bapak yang saya yakin sedikit BT karena selalu kalah dan selalu mengambil kartu dalam jumlah banyak hahahahaOh ya, ternyata kalau malam Baduy itu dinginnya subhanallah, saya beberapa kali terbangun engah malam karena dingin dan juga merasa udah tidur untuk waktu yang lama. Like I said before, di Baduy waktu terasa berjalan lebih lama.
Shubuh tiba dan kita melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Tolong di highlight. BERJAMAAH. Saya rasanya makin kagum saja dengan tiga cowok-cowok ini haha. Kalian yang cewek kalau sedang mencari imam, boleh memasukkan nama mereka ke bursa calon imam idaman kalian muehehehe. Bapak, Moyo dan Rendy menemani dan menunggui saya dan Vera yang sedang ngambil wudhu, di kegelapan dan dinginnya udara shubuh serta tanah yang masih becek, kita beriringan jalan ke sungai karena tidak ada kamar mandi di Baduy. Semua aktivitas dilaksanakan di sungai. Sungai di bagi menjadi tiga bagian. Bagian paling hulu untuk kepala suku, kemudian di bawahnya buat kaum lelaki kemudian bagian perempuan dan yang paling hilir adalah tempat membuang air besar. Ada satu fakta menyebalkan yang saya tau diakhir, bahwa ternyata ketika saya dan Vera sedang membuang air kecil, ternyata Rendy juga melakukan kegiatan yang sama di hulu sungai. Dimana aliran dari hulu sungai akan datang ke kami. Ingin rasanya saya menceburkan Rendy, kenapa dia harus melakukan hajatnya di saat yang bersamaan dengan kami -_-.
Setelah sholat shubuh, kami melanjutkan tidur. Yap apalagi aktivitas yang mengasyikkan untuk dilakukan setelah tidur selain tidur hahaha. Walau kemudian Cici mengomel karena menurutnya kami membuang-buang waktu dengan hanya tidur-tiduran. Jam 7 pagi kami merapikan kembali baeang bawaan dan jam 8 kami pergi meninggalkan Baduy Dalam.Perjalanan pulang ternyata sama menantangnya dengan perjalanan pergi, namun lebih baik karena kali ini tanah kering dari embel-embel air hujan. Perjalanan pulang lebih lama dari perjalanan pergi, karena kami menghabiskan satu jam lebih untuk istirahat (ditambah ghibah) di gubung tempat kami istirahat ketika kami pergi ditambah kami juga menunggu Bapak yang tertidur. Sumpah dia tertidur hanya dalam hitungan detik. sungguh manusia pelor abadi!

Memasuki Baduy Luar kami semakin banyak bertemu dengan masyarakat asli Baduy, dan tentu saja berfoto adalah hal yang sudah pasti dilakukan. Tak terasa kami akhirnya sampai di perbatasan Baduy, dan selanjutnya kami menunggu ojek untuk kembali pulang ke rumah Bapak. Di rumah Bapak kami istirahat, makan makanan enak dan bersih-bersih. Jam 3 sore kami meninggalkan Baduy dengan mobil pribadi dan diantar langsung oleh saudara Bapak. Bye bye elf dan byebye Baduy. See you in another time :)


Jumat, 26 April 2019

Dua Hari Menginap di Padma Hotel Bandung

“Kita nginap di Padma”
Emang Padma apaan?” saya bertanya ke kakak sepupu yang menawari saya untuk ikut ke Bandung bersamanya, dan tidak ada jawaban. Karena rasa penasaran saya berselancar di Google dan langsung takjub melihat pemandangan hotel yang super keren yang terpampang di home web https://padmahotelbandung.com. ‘Well I must stay in this hotel’, batin saya. Tidak butuh waktu lama, saya langsung cek tiket kereta dan jam 11 malam setelah selesai bekerja, saya berangkat dari Gambir dengan kereta terakhir menuju Bandung. Saya sampai Bandung jam setengah 3 pagi, kirim pesan ke WA kakak, deliv tapi tidak dibaca. Duduk sebentar di stasiun selagi memikirkan rencana selanjutnya. Sebelumnya kakak saya sudah memberitahu jika lingkungan tempat Padma Hotel berada merupakan lingkungan yang sepi. Galau karena pemberitahuan mengenai lingkungan yang sepi dan Bandung bukanlah lokasi saya. Memantapkan hati, saya iseng order ojek online, dan ternyata dapat driver. Saat itu sudah jam 3 pagi ketika saya melaju bersama driver ojol di sepi dan dinginnya udara Bandung. Tidak sampai setengah jam kemudian saya sampai di Padma Hotel, dan benar lingkungannya memang sepi sekali. 

Selama perjalanan saya bercerita kalau saya pernah ke Pusdikpassus mengunjungi abang saya (padahal waktu itu saya wawancara narasumber tesis), dan cerita-cerita keren lainnya. Jaga-jaga jika abangnya mempunyai niat jahat hehe. Syukurnya selama perjalanan drivernya juga berusaha memilih jalanan yang ramai dan saya sampai dengan selamat. Sesampainya di hotel suasana lobby gelap dan saya mulai berfkir, ini hotel pelit amat sih kaga ada lampunya (Besoknya baru saya tau dari pegawai hotel kalau mereka, Padma Hotel punya konsep Nature, makanya gelap karena mereka meminimalisir penggunaan listrik). Bahkan sampai hotel kakak saya masih belum membaca chat saya, apalagi membalasnya. Kemudian saya samperin pegawai front office yang berjaga malam itu, dan menanyakan apakah saya boleh tau kamar pengunjung. Mungkin karena saat itu sudah larut dan saya tau persis nama kakak saya, mas yang baik itu bersedia mencarikan nama kakak saya dan memberitau nomor kamarnya. Kamar 423 adalah tujuan saya, berada di lantai 4. Lumayan lama saya berada di depan kamar berusaha menelpon dan memencet bel, sampai akhirnya kakak saya bangun dan membukakakn pintu. Ya saya saa kaget kenapa dia tidur seperti orang mati sih -_- (Oh may be this is genetic, lol).

Itu adalahh kamar yang besar dengan kasur yang besar (satu kasur diisi oleh saya, kakak saya dan dua ponakan saya dan bisa kalau diisi oleh satu orang lagi). Ketika terang saya baru mengetahui kalau ternyata di kamar itu terdapat balkon yang menghadap langsung pepohonan yang rimbun. Dengan kamar mandi besar juga dan terdapat bath up di dalamnya dan juga terdapat satu wastafel dan satu ruangan untuk mandi yang memiliki dua shower (hand shower and  rain shower).
Jam 7 pagi kami memutuskan untuk pergi sarapan, sarapan terdapat di lantai 1. Oh ya di Padma Hotel Bandung, lantai satu berada di paling atas dan lantai 8 berada di lantai paling bawah. Karena 2 keponakan saya sudah berusia di atas 5 tahun, maka kami harus membayar biaya tambahan untuk sarapan mereka  sebesar 200k. Terdapat berbagai macam menu sarapan di Padma Hotel, mulai dari menu asli Indonesia, Western, Chinese food bahkan ada kids corner untuk menu makanan anak-anak. Karena kami tidak punya rencana spesifik selama di Bandung, lagi pula kami berdua adalah no rugi-rugi club, jadi kami menghabiskan 3 jam di restoran haha. Eh lagipula menunggu dua anak kecil yang susah makan itu menghabiskan makanannya memang sangat lama. Selama nungguin gebetan ngelamar. Padahal mereka hanya memakan coco crunch dan mie goreng pakai sosis saja. 
Di tengah penantian saya dan kakak saya menunggu mereka berdua makan, kami disamperin pegawai hotel yang teryata bertugas di front office, Izzul namanya. 
Kegiatan painting
Dia menanyakan pengalaman kami menginap di Padma Hotel. Dan dari dia juga saya mengetahui tentang fasilitas-fasilitas yang kita peroleh jika menginap di Padma Hotel. Dimulai dari fasilitas outbond, flying fox, fish area, birds area, rabbit, mini labyrinth, aktivitas memanah, face painting, nail art, dan melukis. Untuk aktivitas-aktivitas outdoor terdapat jam yang berlaku, pengunjung bisa menanyakan ke resepsionis untuk waktu kegiatannya. Juga terdapat lapangan bola kaki, lapangan bola basket,  mini golf dengan 3 lapangan kecil, kolam renang dengan air hangat untuk anak dan kolam dewasa, juga terdapat kolam air panas jika kita ingin berendam. Namun jika ingin berenang atau berendam, pengunjung diwajibkan menggunakan baju renang. Namun jika tidak membawa baju renang, pengunjung bisa meminjam baju renang ke pihak hotel, namun dengan size yang terbatas.


Kegiatan memancing
Jika ingin karaoke juga terdapat fasilitas karaoke yang bisa dibooking di resepsionis dan juga pengunjung bisa bermain billiard. Kita juga bisa tracking jika menginap di Padma Hotel, ada guide yang akan menemani kita untuk tracking di bukti sekitar Padma Hotel. Padma hotel juga menyediakan fasilitas antar jemput hotel dari dan ke Bandara, Stasiun Kereta, pool bus dan  travel dan itu freeDi sore hari, terdapat fasilitas tea time dari Padma dengan menu makanan dan minuman khas Jawa Barat. Kalau untuk tea time, anak di atas 5 tahun tidak perlu membayar biaya tambahan. Waktu tea time dimulai dari jam 3 sore hingga jam 5 sore.

Karena semua kebutuhan liburan kita sudah dipenuhi selama berada di Padma Hotel, maka saya memutuskan untuk tidak pergi ke luar hotel selama menginap di Padma. Dua hari dua malam menginap di Padma hanya saya habiskan di lingkungan hotel. Walau kakak dan keponakan saya tetap pergi untuk mengeksplore kota Bandung.


Jika kalian berniat menginap di Padma Hotel Bandung, ini saya fotokan list harga menginap di Hotel Padma Bandung. I know, I know you must be shocked about the price, I was  in your position too! (syukur gue dibayarin yekannn) Mana baru tau kalau kamar yang kita tempati ternyata Premium Room Mountain lagi, perkara mountain dan ga mountain aja beda 200k dong . Tapi percayalah , harga tersebut worth it dengan kenyamanan dan fasiltas yang akan kalian dapatkan. Kalau kalian memesan via web Padma Hotel, akan ada diskon spesial buat kalian yang bisa digunakan untuk pemesanan kamar atau bisa juga digunakan untuk deposit. kalau tidak mau rugi karena sudah mengeluarkan uang sebegitu banyak hanya demi menginap di hotel, maka saya sarankan kalian membawa anak kecil jika mengianp di Padma.Tapi jangan bawa anak kecil satu RT, tidak begitu juga sahabat! Karena mostly fasilitas yang terdapat di Padma memang dikhususkan untuk anak anak. Jadi kapan mau menginap di Padma Hotel?



Selasa, 16 April 2019

Takjil Gratis Buat Yang Puasa Senin Kamis


Hari kamis lalu saya pergi ke Mall Kota Kasablanka (Kokas) karena ingin bertemu dengan teman-teman. Saya sampai di Kokas tepat ketika adzan maghrib berkumandang. Setelah mengabari teman kalau saya sudah sampai, saya memutuskan untuk melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu di masjid Kokas yang berada di lantai dasar. Masjid AL-Ikhlas namanya, posisinya berada di depån restoran Marugame Udon. Dari dulu masjid Kokas memang terkenal rame sekali jika masuk jam sholat maghrib. Padahal masjid Kokas sudah terbilang besar jika dilihat dalam ukuran masjid yang berada di dalam mall. Termasuk sore itu, keadaan masjid sangat ramai, bahkan terdapat antrian memanjang ketika saya akan memasuki masjid. Ketika akhirya saya sampai di teras masjid, di tempat kursi yang berjejer dan tempat penitipan sepatu.

Di tengah teras masjid terdapat dua meja yang di atasnya terdapat beraneka macam kue dan makanan ringan lainnya juga air mineral gelas dan teh manis. Wahh ternyata itu adalah hidangan untuk buka puasa,  hari kamis adalah waktu untuk puasa sunnah (tidak wajib) bagi ummat islam. Dalam islam terdapat dua hari puasa sunnah yang biasa dilakukan serang muslim dalam satu minggu, yaitu puasa senin dan kamis. Karena kebetulan hari itu saya juga sedang berpuasa dan baru membatalkan puasa hanya dengan air mineral saja, maka saya mengambil bolu yang tersedia di sana.
Saya duduk di kursi sambil menyantap makanan saya, di sekeliling saya beberapa orang juga tampak sedang menyantap makanannya sedangkan suara iqamat sudah terdengar dari dalam masjid. Selesai dengan bolu yang ada di tangan saya, saya mengambil satu lagi bolu pisang sambil bertanya ke perempuan yang dari tadi terlihat sibuk menata makanan di meja. Menurut Mba yang ternyata bagian dari DKM masjid, makanan untuk buka puasa itu memang selalu disediakan setiap senin dan kamis. Makanan tersebut memang diperuntukkan bagi mereka yang hari itu sedang berpuasa sunnah. aktivitas menyediakan makanan untuk berbuka puasa sudah setahun dilakukan. Walau memang hidangan diperuntukkan bagi mereka yang berpuassa, namun tak jarang juga yang tidak berpuassa ikut menyantap hidangan yang disediakan. Jadi kalau kalian sedang berpuasa senin kamis, sesekali coba suasana buka puasa dengan menu yang disediakan oleh Masjid AL Ikhlas Mall Kota Kasablanka.

Senin, 21 Januari 2019

Perjalanan ke Bajawa, Ngada. Nusa Tenggara Timur

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, karena selain berwisata dan berpetualang saya juga datang untuk mengunjungi Pak Made dan Kak Cyntia yang saat ini menjabat sebagai Dandim di Ngada. Ya sambil menyelam minum air, sambil silaturrahmi dapat bonus liburan hehe.

Perjalanan dimulai dari Jakarta dengan tiket Sriwijaya yang saya beli di STFJ dengan harga 600an. Perjalanan dari Jakarta pada pukul 06.05 WIB dengan menggunakan pesawat Sriwijaya dan sampai di Denpasar, Bali pada pukul 09.00 WITA. Seharusnya perjalanan saya dilanjutkan pada pukul 10.40 dengan menggunakan NAM Air, namun apa daya setelah mengalami delay yang sangat panjang kemudian baru berangkat pukul 15.00 WITA. Saya baru sampai di Labuan Bajo pada pukul 17.00 WITA. Mundur 6 jam dari jadwal awal. Huh.

Dikarenakan pesawat dari Labuan Bajo ke Ngada hanya ada sekali setiap harinya, yaitu pada jam 12.00 WITA. Maka tidak memungkinkan bagi saya untuk melanjutkan perjalanan ke Ngada. Kemudian saya menginap di hotel yang Exotis yang lokasinya sangat dekat dari Bandara. Kalian bisa berjalan kaki dari hotel ke bandara, dan ini bisa dijadikan opsi untuk kalian yang mempuyai jadwal terbang lanjutan. Mengingat transportasi dari Bandara ke kota lumayan mahal. 50.000 dengan taksi.

Keesokan harinya jam 11 kurang saya sudah berada di bandara and guess what, pesawatnya delay dong. Bahkan hingga jam 12 saja pesawat kecil itu belum juga menapakkan romanya di Bandara Komodo. Jam 12.32 WITA akhirnya pesawat datang dan kurang dari jam 1 para penumpang sudah berada di pesawat dan pesawat langsung lepas landas. Jam 01.30 akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna di bandara Ngada. Sampai di Ngada, anggotanya Bapak sudah siap menyambut saya da kemudian saya melanjutkan perjalanan ke rumah Bapak dan Kak Tya.

Pusat kota Bajawa itu berada di dataran yang lebih tinggi lagi dari lokasi bandara, Kota yang kecil namun menyejukkan. Masih jam 2 saja kabut sudah turun ke kota dan menghalangi pandangan mata. Sepanjang jalan kita disambut pemandangan yang sangat indah, melewati Gunung Pasir yang pasirnya terus dikerik. 35 menit mengendarai mobil akhirnya sya sampai di rumah Bapak. Rumah itu sangat asri dengan halaman luas dan pohon kelengkeng di depannya, lokasinya tepat berada di sebelah kantor Kodim karena rumah itu adalah rumah dinas Dandim. Ah saya lupa memberitahu kalian bahwa Bapak adalah Dandim di Ngada.

Ketika saya masuk ke rumah langsung disambut Kak Tya dengan pelukan dan kalungan kain khas Bajawa. Sungguh saya sangat terharu! Ketika diantar ke kamar yang nantinya akan saya tempati selama saya berada di Bajawa, saya dibikin kaget karena ternyata sudah ada Kak Yeni di sana. Seminggu sebelum keberangkatan ke Labuan Bajo, kak Yeni memberitahu kalau dia membatalkan keberangkatannya. Waktu itu saya juga hampir membatalkan keberangkatan saya karena Males juga sendirian. Well they successed to prank me -_-

Makan siang pertama saya memakan masakan Kak Tya langsung, sop ikan yang rasanya sangat enak. Di Bajawa yang udaranya dingin, sop ikan panas adalah pasangan yang sangat cocok.
Sore harinya saya dan Kak Yeni baru bisa bertemu Pak Made karena memang jadwalnya yang sibuk. Malam harinya kami diajak untuk nongkrong di Cafe yang lokasinya tak jauh dari rumah Kak Tya. Mungkin karena mayoritas turis yang datang adalah foreigners, menu makanan yang tersedia di Cafe juga tak jauh dari menu kebarat baratan . Menu ditulis dalam bahasa Inggris dan live musik yang ditampilkan juga dalam bahasa Inggris. Namun kami menemukan satu menu unik. Jus advokat hehehe

Jumat, 18 Januari 2019

Komodo dan Labuan Bajo

Coba, ada yang tau Labuan Bajo itu dimana? Ada yang tau kita bisa menemukan apa di Labuan Bajo? Iyappp, Labuan Bajo merupakan wilayah yang berada di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ketika orang dengar Labuan Bajo, yang ada di fikiran kita sudah pasti Komodo. Iya komodo yang masuk ke dalam keajaiban dunia itu adanya di Indonesia.

Komodo itu adalah hewan karnivora yang dapat kita temukan di wilayah NTT tepatnya di Kepulauan Komodo. Di Kepulauan komodo terdapat banyak sekali pulau, namun komodo hanya mendiami 2 pulau saja yaitu Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Di pulau yang terdapat komodonya, komodo adalah predator utama. Sebenarnya yang berbahaya itu bukanlah gigitan komodo, melainkan air liurnya. Air liurnya komodo mengandung banyak sekali bakteri dan salah satu bakterinya dapat menjadi senjata yang mematikan, bahkan terhadap manusia.

Ada beberapa larangan yang diberlakukan ketika bertemu komodo, diantaranya menjaga jarak dari komodo (setidaknya berada 3-5 meter dari komodo), tidak berjalan sendiri yang arti ya kita harus berjalan berkelompok, tidak menggoyang goyangkan tas, dan juga perempuan yang sedang menstruasi sebaiknya tidak bertemu komodo. Tapi belakangan perempuan yang menstruasi sudah bisa bertemu dengan komodo, karena komodonya sudah terlatih muehehe.

Ketika masuk ke pulau Rinca, kita harus menyewa guide. 80.000 adalah fee untuk guide yang akan memberikan kita banyak informasi juga menjaga kita selama perjalanan bertemu komodo. Dalam perjalanan melihat Komodo di pulau Rinca, terdapat 3 track yang bisa kita lalui. Yaitu Long track, Medium track Dan short track. Buat kamu yang tidak begitu suka tracking sebaiknya memilih short track. Karena ujung perjalanannya tetap sama, bukit dengan pemandangan laut dan perbukitan yang keren banget.

Minggu, 21 Oktober 2018

Aan




Namannya Aan, Lafransyah nama lengkapnya. Berusia dua tahun dan akan memasuki usia tiga tahun ini. Memiliki postur badan yang kurus dan kulit yang gelap akibat selalu terpapar sinar matahari dan genetik dari orang tuanya. Aku pertama kali ketemu Aan di Sekom. Kamu tau Sekom dimana? Sekom adalah salah satu desa di Sanana, Maluku. Ah lokasinya sangat jauh dari Jakarta, bahkan begitu jauh dari Ambon sebagai salah satu kota terkenal yang berlokasi di Maluku.
Saat itu siang dan matahari lagi terik-teriknya dan udara begitu panasnya ketika aku pertama kali bertemu dengan Aan di rumahnya di Sekom. Aan dengan gelas yang berisi es kelapa muda di tangan malu-malu ketika bertemu denganku, ntah malu karena apa. Tantenya Aan mengenalkan aku kepada Aan dengan panggilan cewek cantik, dan aku selalu memanggil diriku dengan Tante Rara walau hingga akhir pertemuan kami dia kerap memanggilku Tante Cantik. Aan sangat jarang sekali menggunakan pakaian, baik itu baju ataupun celana. Iya Aan terbiasa telanjang tanpa sehelai kainpun di badannya, intensitas Aan memakai baju sangat sedikit. Bukannya Ibu Ayahnya tidak memakaikannya baju, Aan sendiri yang melapasnya ketika sudah dipakaikan baju. Jadi ketika dipakaikan baju ke tubuhnya, itu hanya bertahan dalam hitungan jam dan kemudian menghilang.
Aan suka sekali biscuit Gery yang coklat, dia menyebutnya Kui Gery. Walau dia sangat menyukai makanan tersebut dan walau orang tuanya mampu untuk membelikannya, namun Aan tidak selalu memiliki kesempatan untuk memakan biskuit kegemarannya tersebut. Tidak ada warung yang menjual biskuti tersebut dengan jarak yang dekat dari rumahnya, yang  bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau kau berkunjung ke Sekom suatu saat nanti, kau akan paham dengan apa yang kukatakan saat ini.
Seperti normalnya anak kecil, Aan suka bermain. Bermain dengan apa saja, karena semua hal  bisa dijadikan mainan oleh Aan. Beruntungnya anak kecil yang tidak tinggal di kota dan tidak mengenal gadget adalah mereka bisa menjadikan alam sebagai teman bermain. Namun Aan tidak memiliki banyak teman bermain dan tidak tau aalsan pastinya mengapa, namun sepemantauanku Aan lebih sering bermain sendiri di saat anak lain bermain bersama.
Berbicara tentang bermain, ada satu hal yang menjadi alasan utamaku membuat tulisan ini. Waktu itu aku melihat mobil-mobilan dengan jenis truck yang ukurannnya tidak terlalu besar berada di rumah, dan ternyata itu adalah mainannya Aan. Bukan salah satu dari mainannya, namun satu-satunya maninan yang dia miliki, iya satu-satunya. Akan kuberitahu alasan dibelikannya mainan tersebut oleh ayahnya. Waktu itu ada anak kecil lain seusia Aan yang memiliki mobil-mobilan yang seperti itu, dan Aan selalu memainkannya bahkan pernah membawanya ke rumah untuk dipinjam sebentar. Dia sangat menyukai mobilan tersebut namun tidak juga meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan. Melihat hal tersebut, Papa dari Aan berinisiatif untuk membelikannya mobilan baru. Dan kemudian itu menjadi satu-satunya mainan Aan yang dibeli. Aku tidak akan perduli jika kau menganggap ini berlebihan, namun sepengetahuanku anak kecil seusia Aan biasanya memiliki banyak mainan dan mereke akan rewel demi mendapatkan mainan yang mereka suka. Mungkin dulu aku bersikap begitu... ah mungkin kau juga, atau kau lupa? Namun Aan tidak. Dia tidak merengek bahkan tidak rewel ketika meminta mainan tersebut, dia hanya meminjam sebentar mainan temannya dan itu membuat orang tuanya iba. Yahhh setidaknya dalam perspektifku begitu. dan sungguh, Aan merawat mobil-mobilannya dengan bagus. Aku melihat mainan tersebut dalam keadaan bagus dan terawat. Ah aku memiliki perasaan aneh ketika itu, iri dan kagum di saat yang bersamaan. Bagaimana bisa seorang anak kecil mampu untuk bersikap dewasa ketika hal tersebut menyangkut dengan keinginannya? Ketika di waktu yang lain, bahkan orang dewasa sekalipun terkadang tidak mampu. Ah apakah kita tidak mampu, atau tidak ingin~

Selasa, 09 Oktober 2018

Tempat Wisata Kei Kecil Part#1


Berbicara mengenai tempat wisata di Kei Kecil sebenarnya agak membingungkan menurut saya, bukan bingung karena minimnya tempat wisata namun karena banyaknya tempat wisata. Saya bingung mau menjelaskan mana yang bisa disebut tempat wisata, karena menurut saya keseluruhan Kei itu adalah tempat wisata. Lah wong laut di sebelah rumah warga saja warnanya masih beratus kali lebih indah dibanding laut Ancol yang digandrungi masyarakat Jakarta kok. Beneran ini! Kalian akan sepakat kalau kalian sudah melihat Kei. Ibaratnya nih semua lokasi di Tual itu bisa dijadikan tempat wisata. Bahkan menurut teman saya jika di satu kampung terdapat tempat wisata, kampung lain akan buat juga tempat wisata. Hemmm persaingan yang bagus menurut saya.
Pada dasarnya tempat wisata di Tual itu murah-murah kok, apalagi kalau tempat wisata yang tidak menyebrang pulau. Berikut akan saya bagikan tempat-tempat wisata di Kei Kecil yang sudah saya kunjungi beserta akses dan biaya yang dibutuhkan untuk sampai ke sana. Nah karena banya dan akan menjadi alur yag sangat panjang jika dijadikan satu (itu bahsanya gimana sih mba!) Maka info mengenai Tempat wisata Kei saya bagi dua. Ini  part pertamanya.

1. Pasir Timbul (Ngurtavur Island)

Icon Kei Kecil itu apasih? Pantai yang sering banget dimasukin ke IG dengan pengambilan dari atas alias pakai drone. Yep Pasir Timbul atau Ngurtavur Island namanya. Lokasinya lebih jauh lagi dibanding Pulau Baer, tapi kalian tidak akan bosan selama di perjalanan karena pemandangan sebelum sampai ke sana yang super duper keren. Pasir Timbul sendiri adalah, tumpukan pasir yang terdapat di tengah laut yang bisa menghubungkan antara satu pulau dan pulau lainnya (walau jauh banget -_-). Pasir timbul tersebut akan muncul ketika laut sedang surut dan akan menghilang ketika air laut naik atau pasang. Ada hal lain yang unik dari Pasir Timbul ini, yaitu terdapart burung yang transit dari Australia yang memiliki sayap wana tosca, burungnya indah banget deh. Saya kebetulan memiliki kesempatan untuk melihat langsung burung tersebut dan speechless. The only transport to reach Ngurtavur Island adalah Kapal atau speed sama kaya ke Pulau Baer (udah kek naq Jaksel belum? Lol). Ketika itu saya berangkat dari Pelabuhan Debut dan menyewa boat seharga Rp. 500.000. Boatnya sih lumayan besar, kapasitasnya sekitar 10 orang. Sepertinya itu boat paling murah deh, mengingat kita ditawarkan seharga 700.000 sebelumnya oleh warga yang ada di sana. Dan kalau sudah sampai ke Pasir Timbulnya, kalian harus membayar lagi biaya masuk sebesar Rp. 200.000 perkapal yang bersandar di sana. Oh ya jangan lupa, waktu terbaik ke Pasir Timbul itu ketika laut surut, maksimal pukul 11 siang. Karena setelah jam itu, air laut akan naik.





2. Pulau Baer

Duplikatnya Raja Ampat nih, Pulau Baer di Kei Kecil. Menurut saya bedanya hanya di warna airnya saja, kalau Raja Ampat warna airnya lebih ke hijau tosca sedangkan kalau di Baer warna airnya lebih ke biru tosca. Pulau Baer sendiri baru ditemukan sekitar tahun 2017 lalu (kalau saya tidak salah) jadi memang masih baru banget. Akses ke Pulau Baer hanya satu, yaitu menggunakan speed (kalau bahasa di sana) atau kapal dengan mesin karena lokasinya yang memang lumayan jauh dari pusat kota. Waktu itu saya ke sana menggunakan kapal punya teman, jadi saya tidak bayar uang kapalnya hanya inisiatif saja patungan buat bensin. Kalau biaya dengan kapal tergantung dari lokasi awal kita naik, maksudnya kita berangkat dari pulau mana. Tapi range harganya sekitar 500-700 ribu rupiah perkapal. Oh ya di Pulau Baer kalian bisa berenang, jadi jangan lupa sedia pakaian renang ketika main ke Pulau Baer. Juga terdapat tebing yang bisa dipanjat dan kalian bisa mengambil foto diatas tebing demi konten instagam dengan pemandangan keseluruhan pulau Baer dan laut Baer yang berwarna biru tosca. Di atas tebing kalian akan menemukan anggrek langka, yang kata temen saya hanya terdapat di situ sih. Gatau deh benar atau tidaknya karena emang belum riset hehehe. Biaya masuk ke Pulau Baer, free alias gratis. Jadi pengeluaran kalian murni hanya buat kapal saja.





Seperti Raja Ampat kan? Kita bisa naik perahu diantara tebing-tebing tinggi

Ada tebing yang bisa dipanjat di sana, dan viewnya adalah Pulau Baer dari atas

3. Pantai Pasir Panjang (Ngurblot)

Salah satu pantai yang menjadi iconnya Tual nih, nyatanya pantai ini sesuai dengan namanya, ukuran pantainya juga panjang. Memiliki pasir yang sangat halus (bahkan katanya terhalus nomor dua sedunia), pantai ini tempat favorit untuk melihat sunset. Katanya nih kalau di bulan September, sunset di pantai ini seperti kuning telur, bulat dan kuning. Sayangnya ketika saya di saya lagi bulan Maret dan hujan melulu, tapi walau begitu yang penting saya sudah menginjakkan kaki di pasir terhalus nomor dua sedunia :D (tapi seriusan emang halus banget sih, kaya tepung). Di pantai ini juga banyak penginapan yang bisa disewa, harganya bermacam-macam mulai dari 150k-200k. kalau mau masuk ke pantai ini kalian harus mengeluarkan 10k untuk motor dan 20k untuk mobil dan sepertinya gratis kalau jalan kaki haha.
Ini pantainya yang nyatanya emang panjang, tapi ketika saya ke sana pantainya lagi kotor. Karena saya salah bulan, ketika itu angin barat dimana semua kotoran laut datang ke pantai.


Hanya berusaha menggambarkan, ini loh pasirnya yang halus pake banget itu 😄


Dan yes, sunsetnya ngga oke. Eh baca deh cerita saya di https://traradventure.blogspot.com/2018/08/tual-kei-kecil.html#links agar kalian tau betapa sedih-amazednya saat itu

4. Pantai Ohaidertavun

Pernah dengar Meti Kei? Kalau belum tau biar saya jelaskan haha. Jadi Meti Kei adalah festival tahunan di Kei yang diadakan setiap bulan September. Meti itu bahasa Tual yang artinya surut, dimana air laut tidak ada di laut (lah trus dimana airnya? Bak mandi? Ah bukan begitu maksudnya elah!). Jadi kalau normalnya ketika air laut surut itu hanya sedikit saja kan? Nah kalau di pantai ini ketika meti terjadi maka air laut akan surut sebanyak-banyaknya (apaan sih!). Air bisa surut sebanyak 1 hingga 2 kilometer, bahkan ketika bulan September bisa surut hingga 3 kilometer. Kebayang ga sih? Ngga? Makanya main ke Kei deh, kalian akan menemukan fenomena alam yang saya yakin hanya ada di Kei. Jadi ketika saatnya meti, dari pantai sampai ke laut itu bener-bener kosong ga ada air, kalian bisa berjalan sejauh mata memandang tanpa ada air lautnya. Nih tak kasih fotonya, agar ada bayangan muehehehe!


Ini lautnya kalau tidak ada Meti, foto ini diambil sekitar jam 5 sore waktu Kei


Ini lautnya ketika terjadi meti. Ingat dong ayunan yang di foto atas yang dudukan ayunannya terbawa air laut? Nah ini dia.


See? Kapal masyarakat aja jadi begitu. Makanya jarang masyarakat yang ada di kampung ini jadi nelayan. Bawa hasil lautnya  ke daratberat bo!




Foto ini saya ambil dari tengah laut ketika Meti. Yep, itu adalah pemukiman warga
Bukan itu saja, ada satu lagi yag unik dari pantai ini, kalau kalian menghadap ke arah laut, di sebelah kanan kalian akan melihat tebing-tebing. Nah di salah satu bagian dari tebing tersebut, terdapat cap tangan manusia dengan beraneka warna seperti kuning dan merah yang konon katanya sudah ada dari jaman dahulu kala. Masyarakat yang tinggal di sana juga tidak mengetahui siapa yang membuat cap tangan tersebut, masalahnya posisi cap tangan tersebut berada di atas tebing dan agak impossible jika manusia jaman sekarang yang buat cap tangan di sana. Lagipula tinta (atau apalah itu bahannya) dari cap tangan tersebut tidak pudar walau sudah berpuluh bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu, yang ada justru warnanya yang berganti. Hemmm memang sedikit mistis sih, karena pengalaman saya waktu ke sana juga agak sedikit menyeramkan. Suasananya berbeda saja sih, dan agak susah dijelaskan dengan kata-kata walau ku sudah mencobanya. Cobalah ke sana saja sendiri hehe.


Ini penapakan dari jauh tebing yang ada cap tangannya. Hemm foto dari dekatnya hilang bersamaan dengan hilangnya hape saya :(

Oh iya untuk ke pantai Ohaidertavun kalian harus membayar Rp. 5.000 untuk bisa main sepuasnya di pantainya termasuk juga ke lokasi tulisan tangan. Nah untuk ke lokasi tulisan tangan bisa dua akses, bisa dengan boat atau berjalan kaki kalau dengan boat saya kurang tau harganya, karena kalian harus menyewa boat masyarakt. Namun jika dengan berjalan kaki, kalian haus menunggu meti dahulu sehingga kalian bisa jalan ke sana. Tapi ya iitu, kalau berjalan kaki jauh haha.


6. Goa Hawang

Goa dengan kolam yang memiliki air jernih berwana hijau. Dalam kolam tersebut sekitar 7 meter dan kalian juga bisa berenang ke dalam goa dan katanya sih di dalam lebih bagus lagi. Tapi saya tidak berenang karena saya takut tenggelam sad L, jadi saya hanya puas dengan memasukkan kaki ke dalam air Goa saja. Biaya masuk ke Goa Hawang (nah ini saya bingung, karena ketika itu saya sama orang asli Kei dan dia nawar. Jadinya hanya kena 10.000 berdua). Tapi kayanya sih satu orang Rp. 10.000